Dampak Sosial Ekonomi Jerat Utang Rumah Tangga di Indonesia

Tren utang konsumsi rumah tangga di Indonesia terus mengalami peningkatan. Data Census and Economic Information Center (CEIC) menunjukkan pertumbuhan utang rumah tangga 26 persen selama periode 2015-2018. Tren pertumbuhan utang di Indonesia salah satunya didorong oleh pertumbuhan kartu kredit dan layanan pinjam meminjam berbasis teknologi informasi atau fintech. Literasi keuangan memiliki hubungan yang erat terhadap kondisi utang rumah tangga. Data Bank Indonesia tentang perkembangan alat pembayaran kartu kredit dan kartu ATM di Indonesia dari tahun 2009 sampai 2017, jumlah kartu kredit yang beredar lebih tinggi dibandingkan kartu ATM dari tahun ke tahun, sekitar 12,5 juta kartu kredit di tahun 2009 menjadi sekitar 17 juta kartu kredit di tahun 2017.  Hal ini menandakan peningkatan permintaan kredit pada saat pertumbuhan melambat. Sementara itu, total pemberi pinjaman berbasis aplikasi online per september 2017 sebanyak 63,869 orang atau meningkat 344.68 persen dari tahun sebelumnya, sedangkan total akumulasi pendanaan di tahun 2017 tumbuh 632.52 persen dibandingkan tahun sebelumnya (sekitar 1,657.70 Milyar Rupiah). Keterlilitan utang seseorang erat kaitannya dengan minimnya literasi keuangan yang membuat individu maupun rumah tangga cenderung memilih kredit dengan biaya lebih tinggi. Literasi keuangan yang rendah juga dapat menyebabkan seseorang meminjam secara berlebihan (excessive borrowing).

Penelitian ini bertujuan untuk 1) Memperoleh pemahaman yang mendalam terhadap profil rumah tangga yang mengalami over-indebtedness baik yang berasal dari utang kartu kredit maupun pinjaman online berbasis aplikasi; 2) Memperoleh pemahaman yang mendalam dampak sosial ekonomi terhadap rumah tangga yang mengalami over-indebtedness; 3) Memperoleh pemahaman yang mendalam terkait upaya-upaya yang sudah dilakukan pemerintah dan perbankan dalam peningkatan literasi keuangan.

Add Comment