”Infinity War” and SDGs

Setyo Budiantoro*) 

Thanos has concerns like the Development Goals Sustainable development goals / SDGs, the earth’s resources will not adequately meet the needs of all humans. However, the way out to overcome is very different. Thanos took a shortcut. In Infinity War, he destroyed some humans. The SDGs are otherwise more optimistic. Through global transformation carried out together, human life can be sustainable.

Indeed, Thanos’s concern is that the carrying capacity of the earth is indeed limited. From the calculation of 65 world scientists, the majority think that the earth’s carrying capacity is only able to meet the needs of at most 8 billion people. The number of people is now 7 billion. The population of 8 billion lives in an inch, around 2022.

When the SDGs era ends 2030, the world will be inhabited by nearly 9 billion people. By 2050 the population of the earth is close to 10 billion and 2100 is close to 12 billion. The bad news is the projection of the intermediate scenario. If using a high scenario, in 2100 the earth is projected to be inhabited by more than 16 billion people.

Don’t imagine that in the year 2100 is a very long period of time. Some babies born today with a life span of more than 80 years, will experience that period. A time is dark and gloomy if we do nothing in the present. Big and troubling questions continue to haunt. If the carrying capacity of the earth is exceeded, how do humans fulfill essential needs such as clean air, water, food and energy? Will homo homini lupus (human being a wolf for other humans) become real, then there is infinity war over scarce resource crumbs?

Bencana perubahan iklim

Kabar buruk belum berakhir. Laporan berjudul singkat ”Global Warming of 1.5o C” yang baru dikeluarkan Dewan Iklim PBB membuat bergidik. Pemanasan global melampaui 1,5 derajat celsius akan terjadi pada 2040 apabila perilaku pencemaran emisi karbon dioksida masih seperti sekarang. Emisi global harus dikurangi 45 persen dibandingkan tingkat emisi 2010, untuk mencegahnya. Kalau tidak, semua terlambat dan bencana terjadi.

Tembusnya suhu 1,5 derajat celsius terlihat kecil, tetapi dampaknya luar biasa. Jika suhu meningkat 2 derajat celsius, terumbu karang akan hilang 99 persen dan stok ikan berkurang signifikan, kekeringan mewabah, gagal panen makin sering, harga pangan melonjak dan air bersih menjadi langka. Gunung es Arktik akan meleleh, permukaan air laut meningkat dan menenggelamkan negara-negara kecil kepulauan terutama di Pasifik.

Kemiskinan, kelaparan, dan pengungsian dipastikan akan melonjak tinggi. Tanpa tindakan signifikan, kita hanya memiliki peluang kecil menghindari kerusakan tak terhingga dari perubahan iklim. Ini seperti fiksi, tetapi nyata. India pernah mengalami kengerian itu, gelombang panas hebat telah menyebabkan 2.500 kematian di 2015. Kejadian itu diduga akan kembali berulang apabila perubahan iklim terjadi seperti dikhawatirkan, bahkan bisa lebih buruk.

Ekonomi berkelanjutan

Sungguh sangat kebetulan, pada hari yang sama dengan terbitnya laporan Dewan Iklim PBB, diumumkan pula peraih Nobel Ekonomi 2018 adalah William Nordhaus dan Paul Romer. Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia menyatakan, kedua ekonom itu sangat berjasa berkontribusi menjawab pertanyaan paling fundamental dan mendesak yang dihadapi umat manusia saat ini. Pertanyaan itu, bagaimana dengan sumber daya terbatas tetapi kesejahteraan manusia bisa tumbuh berkelanjutan?

Romer memperlihatkan bagaimana akumulasi pengetahuan, teknologi, dan inovasi akan memicu dan memacu pertumbuhan berkelanjutan. Ini berbeda dengan pertumbuhan yang didorong akumulasi modal fisik, pada akhirnya itu akan mengalami depresiasi. Pasar atau sektor bisnis biasanya enggan mengalokasikan anggaran riset dan pengembangan karena mahal, oleh karena itu kebijakan insentif pemerintah sangat diperlukan.

Nordhaus adalah ekonom yang keluar dari cangkang ilmu ekonomi konvensional. Ia sangat khawatir terhadap penggunaan bahan bakar fosil akan memicu perubahan iklim. Setelah bergumul dengan persoalan itu sejak 1970-an, Nordhaus adalah ekonom pertama yang mengembangkan model global mengenai hubungan kuantitatif antara ekonomi dan iklim. Berdasar proyeksinya, jika aktivitas ekonomi masih berjalan business as usual, pencemaran emisi dipastikan meningkatkan pemanasan global. Akibatnya, bencana alam dipastikan terjadi dan pembangunan tidak akan berkelanjutan.

Menurut Nordhaus, disinsentif bagi pencemar emisi harus dilakukan. Dia mengusulkan pajak karbon global untuk mengatasi risiko perubahan iklim. Ia lalu mendesain tiga skenario pajak karbon, mencari titik optimasi mempertimbangkan ekonomi global tetap berjalan dan sekaligus menjamin keberlangsungan generasi masa depan.

Peluang SDGs

Dalam ungkapan bahasa China, di samping mengandung komponen ”bahaya”, kata ”krisis” juga mengandung makna ”peluang”. Dan benarlah ungkapan itu dalam menghadapi ancaman krisis global saat ini. SDGs adalah kesepakatan transformasi global yang akan dilakukan semua negara dan pemangku kepentingan, agar bumi berkelanjutan. Artinya, bagaimana kebutuhan manusia bisa dipenuhi tanpa mengorbankan generasi masa depan.

Transformasi besar berskala global ini, menurut Paul Polman, adalah peluang ekonomi terbesar dalam hidup kita. Dikalkulasikan, paling tidak peluang bisnis 12 triliun dollar AS akan muncul untuk melaksanakan SDGs. Sekitar 80 juta tenaga kerja akan tercipta hanya di sektor SDGs yang terkait makanan dan peluang itu, terutama di Asia.

Dalam konteks Indonesia, untuk melaksanakan SDGs terkait mengatasi perubahan iklim, Bappenas telah membuat desain perencanaan pembangunan rendah karbon yang menjadi dasar teknokrasi rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024. Arah pembangunan ini juga membuka peluang bisnis untuk sektor efisiensi energi dan bahan baku, rantai nilai ekonomi sirkular, energi terbarukan, pengelolaan sampah, tata kelola hutan, peternakan rendah emisi, pengelolaan limbah makanan, pendanaan hijau, green building, pertanian berkelanjutan, urban farming, kendaraan listrik, dan lain-lain.

Pencemar emisi tentu perlu mendapatkan disinsentif karena eksternalitasnya mengancam hidup kita semua, seperti kata Nordhaus. Sebaliknya, arah baru pembangunan juga perlu memberikan insentif bagi pengembangan pengetahuan, teknologi dan inovasi untuk mengurasi emisi, efisiensi energi, pengolahan sampah, energi terbarukan, produk ramah lingkungan, dan lain-lain. Inilah tantangan dan sekaligus peluang bagi perguruan tinggi, ilmuwan, pakar, industri dan inovator. Merujuk Romer, pada akhirnya inilah yang akan jadi andalan untuk tumbuh berkelanjutan hingga masa depan.

Hal lain yang juga sangat penting adalah perubahan perilaku masyarakat. Indonesia pembuang sampah makanan dan sekaligus penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia. Dari 10 sungai paling tercemar di dunia, Indonesia peringkat kedua, yaitu Sungai Citarum. Jakarta juga diperkirakan kota tercepat di dunia yang akan tenggelam karena penggunaan air tanah berlebihan. Ini menunjukkan, transformasi pendidikan dan pengetahuan secara inovatif perlu dilakukan untuk mengubah perilaku (sustainable behaviour) sekaligus memberikan solusi, di samping perlunya insentif dan disinsentif.

Sangatlah jelas, perubahan harus dilakukan semua pihak bukan hanya secara kelembagaan (pemerintah dan nonpemerintah) tetapi juga individu (tragedy of the common). Dan ini pertama kalinya dalam sejarah, hidup kita di masa kini dan masa depan begitu bergantung satu sama lain. Pertanyaannya sederhana, apakah kita akan menjadi bagian dari solusi atau justru bagian dari masalah. Jika kita bagian dari solusi, kitalah sebenarnya para avengers meski tanpa tenaga superpower, para penyelamat bumi dan masa depan kemanusiaan secara sunyi.

__________

*) Setyo Budiantoro Peneliti Senior Perkumpulan Prakarsa dan Komisioner Pengawas Komisi Anggaran Independen (KAI)

Artikel Terbit di Harian Kompas, 16 Oktober 2018

Add Comment