Paradok Kekayaan Berlipat dan Indeks Kelaparan

Jauh dari pujian internasional sebagai negara ekonomi raksasa masa depan, kinerja Indonesia paling dasar yaitu menanggulangi masalah kelaparan ternyata paling buruk di Asia Tenggara. Berdasarkan data Global Hunger Index (GHI) atau Indeks Kelaparan Global, Indonesia tak mengalami perbaikan berarti selama sembilan tahun terakhir. Jangankan dibandingkan Malaysia, Thailand, Vietnam atau Filipina, kinerja Indonesia bahkan jauh di bawah Laos dan Kamboja.

Paradoksnya, pada kurun waktu hampir bersamaan jumlah orang kaya di Indonesia meningkat lima kali lipat. Indonesia adalah negara paling spektakuler dengan peningkatan jumlah orang kaya tercepat di dunia dalam dekade ini. Akumulasi total 40 orang terkaya telah setara dengan kekayaan 77 juta penduduk pada tahun 2011. Kesenjangan Indonesia kini terburuk sepanjang sejarah dengan koefisien Gini yang telah mencapai 0,41. Situasi ini sangat mendesak untuk diperbaiki sebelum ketidakpuasan meledak akibat rasa keadilan sosial yang makin terkoyak.

Stagnasi Indeks Kelaparan

Dalam kurun waktu 2003 hingga 2012, posisi Indonesia dalam Indeks Kelaparan Global hanya turun dari 12,47 menjadi 12. Selisih penurunan yang hanya bernilai 0,47 tersebut sangat jauh di bawah negara-negara Asia Tenggara lain. Kinerja Vietnam 15 kali lebih baik, Thailand 9 kali, Malaysia 4 kali, dan bahkan Laos 9 kali lipat lebih baik (lihat tabel).

Indeks Kelaparan Global adalah indeks untuk memantau kemajuan dan kegagalan dunia dalam mengatasi kelaparan berbasiskan ukuran kinerja negara per negara1. Indikator yang diukur adalah persentase kekurangan makanan dari populasi, prevalensi berat balita di bawah standar dan tingkat kematian balita. Indeks berskala 0 (terbaik) hingga 100 (terburuk) dengan beberapa kategori dari tingkat kelaparan rendah hingga sangat mengkhawatirkan (lihat keterangan tabel). Indeks Indonesia berada pada nilai 12 artinya negeri ini masih dalam kategori tingkat “kelaparan serius”.

Selengkapnya Unduh Di Sini


Add Comment