
Laporan penelitian ini menyoroti paradoks transisi energi global di sektor mineral kritis, khususnya ekstraksi timah di Desa Mapur, Bangka Belitung. Di tengah peran strategis Bangka Belitung sebagai pemasok hampir 20% timah dunia untuk industri semikonduktor dan energi bersih, masyarakat lokal justru menghadapi dampak serius berupa kerusakan ekologis, krisis ruang hidup, dan kemiskinan struktural. Studi ini menunjukkan bahwa pendekatan audit dan sertifikasi yang selama ini dominan masih cenderung administratif dan teknokratis, sehingga belum mampu menangkap realitas pelanggaran HAM dan kerusakan di tingkat tapak.
Melalui pendekatan Community-Based Human Rights Impact Assessment (COBHRA), penelitian ini menempatkan komunitas terdampak sebagai subjek utama dalam mengidentifikasi dan menilai dampak operasional perusahaan. Temuan riset mengungkap praktik supply chain laundering, kerusakan lingkungan yang melampaui daya dukung ekosistem, insekuritas tenurial bagi Masyarakat Adat Mapur, eksternalisasi risiko ketenagakerjaan, ketidakadilan gender, serta lemahnya mekanisme pengaduan. Laporan ini juga menawarkan rekomendasi strategis bagi pemerintah, perusahaan, lembaga keuangan, dan masyarakat sipil untuk mendorong tata kelola mineral kritis yang lebih adil, akuntabel, dan berkelanjutan.
Baca selengkapnya di sini: