The PRAKARSA Tekankan Pentingnya Kebijakan Inklusif Agar Indonesia Keluar dari Middle Income Trap dalam Simposium Magister PSdK UGM

Manajer Riset dan Pengetahuan The PRAKARSA, Roby Rushandie, memberikan pemaparan dalam acara Simposium Magister Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, FISIPOL UGM.

Yogyakarta, The PRAKARSA – Selasa (8/7/2025), The PRAKARSA berpartisipasi dalam Simposium ke-5 Magister Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK) 2025 yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada di Auditorium Fisipol UGM, Yogyakarta. Dalam forum tersebut, Roby Rushandie, Manajer Riset dan Pengetahuan The PRAKARSA, hadir mewakili lembaga sebagai salah satu narasumber dengan membawakan materi “Middle Income Trap: Strategi Kebijakan dan Tantangan Pembangunan Ekonomi Inklusif.”

Mengusung tema “Quo Vadis Pembangunan Kontemporer”, simposium ini merupakan forum akademik yang mempertemukan mahasiswa magister dan dosen Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan untuk mendiskusikan perkembangan dan temuan riset, sekaligus membahas isu-isu strategis dalam studi pembangunan sosial dan kesejahteraan. Kehadiran The PRAKARSA dalam forum ini menegaskan pentingnya kontribusi masyarakat sipil dalam memperkaya diskursus pembangunan berbasis riset dan keberpihakan pada keadilan sosial.

Dalam paparannya, Roby menyoroti bahwa pembahasan mengenai middle income trap tidak cukup dibatasi pada target kenaikan pendapatan per kapita semata. Menurutnya, isu ini juga perlu dibaca dari kualitas struktur ekonomi, daya tahan kelas menengah, mutu pekerjaan yang tersedia, serta kapasitas kebijakan publik dalam melindungi masyarakat dari kerentanan. Ia menegaskan bahwa kelas menengah merupakan tulang punggung perekonomian, namun dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan yang semakin besar.

Roby menjelaskan bahwa tantangan Indonesia untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah berkaitan dengan beragam persoalan yang saling terhubung, mulai dari kerentanan terhadap global shocks, belum optimalnya efisiensi investasi, masih tingginya kemiskinan multidimensi, ketimpangan ekonomi, hingga gejala deindustrialisasi dan pergeseran pekerja formal ke sektor informal. Di sisi lain, bonus demografi, digitalisasi, dan transisi ekonomi hijau juga menuntut kesiapan keterampilan yang lebih kuat agar transformasi ekonomi tidak meninggalkan kelompok rentan maupun kelas menengah muda.

“Middle income trap tidak bisa dipahami semata sebagai persoalan angka pendapatan per kapita. Persoalan intinya adalah apakah pertumbuhan mampu menciptakan kerja layak, memperkuat perlindungan sosial, dan menjaga kelas menengah agar tidak semakin rentan. Karena itu, Indonesia memerlukan kebijakan yang terintegrasi, adil, dan konsisten dalam jangka panjang,” ujar Roby Rushandie, Manajer Riset dan Pengetahuan The PRAKARSA.

Sebagai bagian dari strategi kebijakan, Roby menekankan pentingnya reformasi pajak yang tidak hanya mengejar peningkatan penerimaan, tetapi juga memperhatikan aspek keadilan, termasuk pembahasan mengenai pajak kekayaan. Selain itu, ia menyoroti perlunya perluasan perlindungan sosial dan kesempatan kerja, penguatan reskilling dan upskilling melalui pendidikan vokasi dan balai latihan kerja, serta peningkatan inklusi dan literasi keuangan. Menurutnya, agenda tersebut perlu ditopang oleh perbaikan birokrasi dan tata kelola, pembangunan infrastruktur fisik dan digital, serta konsistensi kebijakan pembangunan dalam jangka panjang.

Partisipasi Roby Rushandie sebagai narasumber dalam Simposium Magister PSdK UGM memperlihatkan eksposur The PRAKARSA dalam ruang-ruang akademik strategis, khususnya pada isu pembangunan ekonomi inklusif, perlindungan sosial, dan transformasi struktural. Kedepan, The PRAKARSA akan terus mendorong kontribusi pengetahuan yang berbasis bukti untuk memperkaya perdebatan publik dan kebijakan pembangunan yang lebih adil, tangguh, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat.

Kami menggunakan cookie untuk memberikan Anda pengalaman terbaik.