The PRAKARSA Ikuti Future Leaders Programme 11, Bahas Strategi Baru Pembangunan ASEAN di Tengah Krisis Global

KUALA LUMPUR — The PRAKARSA mengikuti Future Leaders Programme (FLP) 11 yang diselenggarakan oleh Development Leadership Dialogue (DLD) SOAS University of London bersama Khazanah Research Institute (KRI) di Hotel Hilton Kuala Lumpur, Malaysia, pada 23–27 November 2025. Program ini mempertemukan para pemimpin muda dari negara-negara ASEAN untuk mendiskusikan tantangan pembangunan kawasan di tengah perubahan geopolitik global, transformasi teknologi, dan krisis iklim.

Peserta dari The PRAKARSA, Yuanda Pangi Harahap, mengikuti forum bersama perwakilan pemerintah, akademisi, sektor bisnis, masyarakat sipil, hingga organisasi internasional dari berbagai negara ASEAN. FLP11 mengangkat tema “New Development Strategies for ASEAN in a ‘New’ World’” yang menyoroti pentingnya strategi pembangunan baru agar ASEAN mampu menjaga pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan di tengah ketidakpastian global.

Forum ini menghadirkan sejumlah ekonom dan akademisi internasional, di antaranya peraih Nobel Ekonomi Joseph Stiglitz, Ha-Joon Chang dari SOAS University of London, Jomo K.S. dari KRI, hingga Yuen Yuen Ang dari Johns Hopkins University. Pada sesi pembukaan, diskusi menyoroti tantangan demokrasi dalam mendorong pembangunan ekonomi cepat, terutama ketika negara otoriter seperti Cina dinilai berhasil melakukan industrialisasi dan pengurangan kemiskinan dalam waktu singkat. Namun, para pembicara menilai demokrasi tetap memiliki keunggulan dalam jangka panjang karena memiliki mekanisme koreksi melalui transparansi, kritik publik, dan akuntabilitas institusi.

Selain itu, peserta juga membahas perubahan model pembangunan global. Strategi industrialisasi berbasis ekspor manufaktur yang sebelumnya menjadi fondasi keberhasilan negara-negara Asia Timur dinilai semakin sulit diterapkan saat ini. Sebagai alternatif, forum menekankan pentingnya penguatan sektor jasa modern, pertanian bernilai tambah, inovasi teknologi, serta peningkatan produktivitas sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi negara berkembang.

Dalam sesi mengenai geopolitik baru dan dampaknya terhadap ASEAN, para pembicara menyoroti meningkatnya rivalitas antara Amerika Serikat dan Cina yang memengaruhi rantai pasok global, perdagangan, serta arah investasi internasional. ASEAN dinilai perlu memperkuat kapasitas institusional dan memperluas kerja sama kawasan agar tidak hanya menjadi “pengikut aturan”, tetapi juga mampu membentuk aturan dan kepentingannya sendiri dalam tatanan global baru.

Isu transisi energi dan krisis ekologis juga menjadi pembahasan utama dalam forum tersebut. Diskusi menekankan bahwa transisi menuju energi hijau tidak dapat dilakukan dengan pendekatan seragam karena kondisi sosial, ekonomi, dan institusi tiap negara berbeda. Penguatan transportasi publik, reformasi pembiayaan energi hijau, serta peningkatan standar keberlanjutan rantai pasok dinilai menjadi langkah penting untuk mendorong transformasi ekonomi rendah karbon di kawasan ASEAN.

Pada sesi industrialisasi hijau, peserta mendalami pentingnya penguatan kapasitas negara dalam membangun industri teknologi dan energi bersih. Indonesia disebut memiliki peluang strategis melalui sumber daya nikel untuk mendorong hilirisasi industri dan transfer teknologi. Namun, para pembicara juga mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan, meningkatkan kualitas tenaga kerja, serta memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan masyarakat lokal.

Forum juga membahas restrukturisasi rantai nilai global dan posisi ASEAN dalam industri strategis seperti semikonduktor. Malaysia dan Vietnam dipaparkan sebagai contoh negara yang tengah memperkuat strategi industri nasional melalui pengembangan industri teknologi tinggi, penguatan perusahaan domestik, dan peningkatan koordinasi lintas kementerian. Para peserta menilai ASEAN perlu memperkuat integrasi ekonomi regional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap kekuatan besar global.

Selain sesi diskusi akademik, FLP11 menjadi ruang pertukaran gagasan dan pengalaman antarpeserta muda dari berbagai negara. Program ini juga mendorong lahirnya jejaring kolaborasi baru di kawasan ASEAN dalam isu pembangunan, transformasi ekonomi, dan tata kelola global.

Kami menggunakan cookie untuk memberikan Anda pengalaman terbaik.