
Desakan global untuk menurunkan emisi telah menjadikan nikel sebagai mineral strategis dalam transisi energi. Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia menghadapi tantangan besar karena peningkatan produksi dan pengolahan nikel juga memicu kenaikan emisi karbon. Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian PPN/Bappenas bersama WRI menyusun Peta Jalan Dekarbonisasi Industri Nikel dengan target penurunan emisi sebesar 80,98 persen pada 2045 guna memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik global.
Kertas kebijakan ini menyoroti pentingnya pendekatan dekarbonisasi yang tidak hanya berfokus pada pengurangan emisi, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan dan keadilan sosial. Koalisi Responsibank Indonesia menilai bahwa transisi yang mengabaikan perlindungan lingkungan dan hak masyarakat di wilayah penghasil sumber daya tidak dapat disebut adil maupun berkelanjutan. Karena itu, dekarbonisasi perlu disertai tanggung jawab etis, tata kelola lingkungan yang baik, serta kolaborasi berbagai pihak untuk mendukung pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan.