fbpx
Demokrasi Ekonomi melalui Demokratisasi Energi

Kini saatnya pemerintah ”total football” determinatif dari segi kebijakan, insentif, dan anggaran untuk mengembangkan berbagai potensi energi terbarukan, termasuk dalam ”applied research”.

Dengan risau mesti diakui, masa depan dunia sangatlah muram. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres memperingatkan, kode merah umat manusia telah menyala. Sayangnya, hasil Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim PBB atau COP 26 hanya membawa kemasygulan. Rendahnya komitmen negara maju dan negara besar berpengaruh mengandaskan harapan. Bumi ibarat kapal terbakar hampir tenggelam, bukannya memadamkan api, namun rebutan dan mempertahankan periuk terus terjadi. Hasil kesepakatan begitu normatif dan minim ambisi.

Bumi memanas melampaui 1,5 derajat celsius dibandingkan masa pra-industrial tak terelakkan akan terjadi. Bahkan, skenario kenaikan hingga 3 derajat telah muncul. Apabila ini terjadi, maka tak ada tempat aman di bumi, demikian disampaikan The Economist. Ekosistem laut sekarat karena matinya terumbu karang. Gunung es mencair menaikkan permukaan laut dan melenyapkan banyak pulau dari peta. Banjir dan kekeringan ekstrem akan datang silih berganti. Baca selengkapnya

Sumber: KOMPAS edisi OPINI (22 Desember 2021)