Gaungkan Ekonomi Restoratif Berbasis Komunitas, The PRAKARSA Selenggarakan Forum Pembelajaran Multipihak

Direktur Eksekutif The PRAKARSA, Victoria Fanggidae, menyampaikan sambutan dalam pembukaan kegiatan Learning Exchange.

Jakarta, The PRAKARSA – Rabu (15/4/2026), The PRAKARSA menyelenggarakan Learning Exchange bertajuk “Menggali Pembelajaran dari Inisiatif Komunitas untuk Ekonomi Restoratif” di Jakarta. Kegiatan ini menjadi ruang berbagi pembelajaran atas temuan awal penelitian The PRAKARSA mengenai ekonomi restoratif sekaligus forum dialog multipihak untuk memetakan tantangan, peluang, dan strategi penguatan inisiatif ekonomi komunitas yang inklusif dan berkelanjutan.

Kegiatan dibuka oleh Direktur Eksekutif The PRAKARSA, Victoria Fanggidae, yang menekankan pentingnya memastikan penelitian tidak berhenti sebagai temuan akademik, tetapi mampu memperkaya perdebatan kebijakan publik.

“Melalui diskusi ini, kami berharap penelitian yang sedang berjalan memperoleh ‘punch’ yang lebih kuat dan dapat membawa pendekatan ekonomi restoratif ke dalam diskusi-diskusi kebijakan publik,” ujar Victoria Fanggidae, Direktur Eksekutif The PRAKARSA.

Dalam sesi pemaparan, perwakilan tim peneliti The PRAKARSA, Bintang Aulia Lutfi, menyampaikan temuan awal studi bertajuk “Restorasi Alam dan Kesejahteraan Masyarakat: Peran Komunitas dan Ekosistem Pendukung”. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif di empat lokasi yakni Kabupaten Siak (Riau), Kabupaten Sigi (Sulawesi Tengah), Kalurahan Tamanmartani, (D.I. Yogyakarta) dan Desa Tampelas (Kalimantan Tengah) – untuk menelaah bagaimana inisiatif restorasi tumbuh, siapa aktor penggeraknya, tantangan yang dihadapi, serta dampaknya terhadap kesejahteraan sosial-ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Temuan awal menunjukkan bahwa praktik ekonomi restoratif menjadi lebih efektif ketika manfaat ekologis diterjemahkan ke dalam nilai ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Di berbagai lokasi studi, restorasi tidak berjalan sebagai agenda lingkungan semata, melainkan terhubung dengan sumber penghidupan, seperti komoditas lokal dan pengolahan hasil, mulai dari nanas dan ikan gabus di lanskap gambut, kopi, kakao, vanili, dan sereh wangi di wilayah perbukitan, hingga praktik pertanian organik di tingkat desa. Pembelajaran ini menegaskan bahwa keamanan penghidupan tetap menjadi pertimbangan utama masyarakat dalam mengadopsi praktik-praktik restoratif.

Peneliti The PRAKARSA, Bintang Aulia Lutfi, tengah memaparkan temuan awal riset.

Riset juga menyoroti bahwa keberlanjutan ekonomi restoratif ditentukan oleh keberadaan ekosistem pendukung yang memadai. Bentuknya mencakup regulasi daerah, kelembagaan desa dan adat, peran organisasi masyarakat sipil, dukungan pemerintah, kemitraan swasta, hingga hibridisasi antara pengetahuan lokal dan inovasi ilmiah. Karena itu, intervensi berbasis kesadaran saja tidak cukup, penguatan ekonomi restoratif memerlukan insentif yang koheren, dukungan kelembagaan, serta proses pembelajaran adaptif jangka panjang.

Setelah pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yang difasilitasi oleh perwakilan tim peneliti PRAKARSA, Ema Kurnia Aminnisa. Sejumlah peserta membagikan pengalaman lapangan dan perspektif kebijakan, antara lain dari FWI, Yayasan Puter, WALHI, SCOPI, Katadata Green, AMAN, Perkumpulan HuMA, ICEL, LTKL, dan CLUA. Diskusi menggarisbawahi bahwa tantangan pengembangan ekonomi restoratif tidak hanya berada pada tingkat tapak, seperti akses pasar, pembiayaan, logistik, kapasitas pascapanen, dan regenerasi pelaku, tetapi juga pada aspek kerangka hukum, desain kebijakan, serta keberlanjutan dukungan lintas aktor.

Kegiatan ini ditutup dengan pemutaran video dokumenter berdurasi 20 menit yang diproduksi Bero Setudio untuk memberikan gambaran visual mengenai praktik ekonomi restoratif di lapangan. Dokumenter tersebut memperlihatkan bahwa inisiatif restoratif lahir dari konteks sosial-ekologis yang beragam dan berkembang melalui proses negosiasi, pembelajaran, serta kerja sama antarpihak.

Sebagai penutup, forum menegaskan bahwa penguatan ekonomi restoratif membutuhkan pendekatan yang terintegrasi, kolaboratif, dan berjangka panjang. Hasil penelitian dan pertukaran pengetahuan dalam Learning Exchange ini diharapkan dapat memperkaya wacana kebijakan serta mendorong lahirnya strategi pembangunan yang lebih inklusif, adaptif, dan berdampak nyata bagi masyarakat sekaligus lingkungan.

Peserta Learning Exchange yang terdiri dari berbagai lembaga tengah berfoto bersama usai acara.

Kami menggunakan cookie untuk memberikan Anda pengalaman terbaik.