
JAKARTA, Kamis (29/7/2026) – The PRAKARSA menyelenggarakan pemutaran film dan diskusi panel bertajuk “Ekonomi Restoratif: Solusi Tanding Ekonomi Ekstraktif” di Institut Français d’Indonésie (IFI), Jakarta. Tidak hanya menjadi ruang diseminasi hasil riset, kegiatan ini berhasil mempertemukan 120 peserta dari pemerintah, sektor privat, organisasi masyarakat sipil dan komunitas, media, akademisi, serta kelompok profesional lainnya.
Komposisi peserta memperlihatkan jangkauan forum yang luas. Organisasi masyarakat sipil, komunitas, dan lembaga nonpemerintah menjadi kelompok terbesar dengan 37 peserta atau 30,8 persen. Sektor privat hadir melalui 29 peserta atau 24,2 persen, disusul pemerintah sebanyak 23 peserta atau 19,2 persen. Acara juga diikuti 14 peserta dari kelompok lainnya, 11 insan media, dan enam akademisi.

Keberagaman tersebut menempatkan ekonomi restoratif sebagai isu lintas sektor, bukan semata agenda lingkungan. Peserta dari sektor privat, misalnya, berasal dari industri kreatif, lingkungan, pertanian, jasa keuangan, makanan dan minuman, kontraktor, hingga farmasi. Kehadiran beragam bidang usaha menunjukkan bahwa pemulihan ekosistem berkaitan langsung dengan cara produksi, pembiayaan, rantai pasok, pengembangan pasar, serta komunikasi kepada publik.
Film dokumenter yang diputar merangkum pembelajaran dari riset The PRAKARSA di Siak, Sigi, Tamanmartani, dan Tampelas. Cerita dari empat lokasi tersebut menjadi titik temu bagi peserta dengan mandat dan pengalaman yang berbeda untuk melihat bagaimana pemulihan alam dapat berjalan beriringan dengan penguatan penghidupan masyarakat. Melalui medium audio-visual, pengalaman di tingkat tapak dapat dibaca sebagai persoalan bersama yang membutuhkan respons kebijakan, pembiayaan, kelembagaan, dan pasar.
Direktur Eksekutif The PRAKARSA, Victoria Fanggidae, menekankan bahwa temuan riset menunjukkan ekonomi restoratif sangat bergantung pada kekuatan jejaring lintas pihak. Komposisi peserta dalam kegiatan ini memperlihatkan ekosistem tersebut secara nyata: pemerintah membawa perspektif regulasi dan program, pelaku usaha serta filantropi membuka peluang pembiayaan dan pengembangan pasar, sementara organisasi masyarakat sipil, komunitas, akademisi, dan media memperkuat pengetahuan, pengawasan, serta narasi publik.
Diskusi juga mempertemukan pengalaman para penggerak lokal dengan pembuat kebijakan dan lembaga pendukung di tingkat nasional. Percakapan tidak berhenti pada potensi ekonomi dari kegiatan restorasi, tetapi turut membahas prasyarat untuk memperluasnya, mulai dari kepercayaan terhadap kapasitas masyarakat, kepastian kebijakan, fasilitasi perizinan, insentif, akses pembiayaan, hingga dukungan bagi produk dan usaha lokal.
“Kita harus percaya pada masyarakat lokalnya, produknya, kapasitas dan kapabilitasnya. Inisiatif seperti ini harus tumbuh juga di tempat lain, sesuai potensi dan tantangan masing-masing daerah,” ujar Mushrahmad Igun, salah satu penggerak inisiatif ekonomi restoratif di tingkat lokal.
Bagi The PRAKARSA, tingginya partisipasi multipihak menunjukkan bahwa agenda ekonomi restoratif memiliki ruang untuk menjangkau audiens yang lebih luas dan membangun bahasa bersama antaraktor. Film menjadi sarana untuk mendekatkan bukti riset dengan pengalaman masyarakat sekaligus membuka percakapan mengenai peran yang dapat dijalankan oleh setiap pihak dalam mendorong perubahan.
Kegiatan ini menegaskan bahwa transformasi dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi restoratif tidak dapat ditopang oleh satu sektor saja. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, lembaga pembiayaan, filantropi, akademisi, dan media perlu diterjemahkan ke dalam kebijakan, skema pendanaan, kemitraan, dan dukungan kelembagaan yang memungkinkan inisiatif lokal tumbuh, direplikasi, dan memberikan manfaat ekologis serta ekonomi secara berkelanjutan.