The PRAKARSA Selenggarakan Lokakarya Renstra 2026-2030: Menajamkan Visi, Misi, Prioritas Program, dan Penguatan Kelembagaan

Pada 23-24 Januari 2026, The PRAKARSA menyelenggarakan Lokakarya Perencanaan Strategis (Renstra) 2026-2030 sebagai forum konsolidasi Badan Pengurus, manajemen, dan staf untuk menyusun arah strategis organisasi lima tahun ke depan. Lokakarya ini dirancang untuk menyelaraskan pemahaman tentang mandat lembaga, merefleksikan capaian periode sebelumnya, memetakan tantangan eksternal, serta merumuskan visi, misi, prioritas program, dan agenda penguatan kelembagaan.

Dalam pembukaan, Purnama Adil Marata, Ketua Badan Pengurus, menegaskan pentingnya Renstra sebagai pegangan bersama bagi organisasi selama lima tahun ke depan. Renstra diposisikan tidak sekadar sebagai dokumen administratif, melainkan rujukan bagi Badan Pengurus Harian dan sekretariat dalam mengarahkan kerja lembaga. Penegasan ini sejalan dengan kebutuhan PRAKARSA untuk terus menghadirkan narasi besar dan keunikan yang membedakannya di tengah ekosistem riset dan advokasi kebijakan yang semakin padat.

Lokakarya difasilitasi oleh Bapak Mubariq Ahmad, ekonom senior di bidang keberlanjutan. Dalam lokakarya, peserta mendiskusikan tujuan utama penyusunan Renstra, mulai dari merespons tantangan sosial, ekonomi, dan lingkungan dalam 5-10 tahun ke depan, memperkuat keberlanjutan organisasi melalui diversifikasi pendanaan dan pengembangan SDM, hingga menegaskan posisi PRAKARSA sebagai policy think tank unggulan. Diskusi juga menekankan pentingnya Renstra sebagai panduan untuk membangun ekosistem riset, kolaborasi multipihak, serta target kinerja organisasi di bidang riset, advokasi, pelatihan, dan keuangan.

Pada sesi refleksi dan pembelajaran, peserta meninjau capaian utama PRAKARSA sepanjang 2021-2025. Diskusi mencatat bahwa kehadiran PRAKARSA telah diakui oleh berbagai donor dan mitra, dengan pengaruh yang relatif kuat pada isu keadilan pajak, kebijakan sosial seperti riset BPJS dan lansia, serta pengembangan Multidimensional Poverty Index. Pada saat yang sama, lokakarya juga mengidentifikasi kebutuhan untuk memperkuat kembali relasi dengan CSO daerah, menajamkan positioning lembaga, dan memastikan strategi pendanaan yang lebih realistis serta tidak bergantung pada sedikit sumber utama.

Ekspektasi terhadap Renstra baru juga dirumuskan secara terbuka. Sejumlah isu yang mengemuka mencakup perlunya optimalisasi peran Board, penguatan posisi PRAKARSA dalam ekosistem kebijakan publik, peningkatan visibilitas di media, investasi yang lebih strategis untuk fundraising, serta keberanian untuk keluar dari echo chamber dan membangun engagement yang lebih luas dengan para pemangku kepentingan. Dalam konteks itu, agenda lokakarya juga diperkaya dengan guest talk oleh Philips Vermonte mengenai tantangan CSO riset dan advokasi kebijakan di tengah dinamika global, situasi sosial-politik domestik, dan perubahan funding landscape.

Pembacaan konteks eksternal menunjukkan bahwa lima tahun ke depan akan diwarnai oleh sejumlah tantangan besar, antara lain menguatnya kecenderungan kebijakan yang tidak berbasis bukti, menyempitnya civic space, kemunduran demokrasi, perubahan prioritas donor seiring pergeseran geopolitik, serta tuntutan untuk merespons isu-isu baru seperti green transition, digital inclusion, AI governance, dan climate justice. Peserta menilai bahwa PRAKARSA perlu merespons situasi tersebut melalui strategi komunikasi publik yang lebih efektif, penguatan knowledge management, serta model engagement yang tetap kritis namun strategis dalam berinteraksi dengan pemerintah, CSO, maupun sektor swasta.

Pada hari kedua, diskusi mengerucut pada perumusan visi untuk Indonesia 2045 dan visi organisasi PRAKARSA. Rumusan sementara yang dihasilkan menempatkan Indonesia 2045 sebagai negara kesejahteraan yang inklusif dan berkelanjutan, didukung good governance, meritokrasi, kebijakan berbasis bukti, civic space yang produktif, OMS yang kuat, dan alokasi sumber daya yang memadai untuk riset.

Bagi The PRAKARSA, lokakarya ini merupakan tahap penting untuk memastikan Renstra 2026-2030 tidak berhenti pada level perumusan visi, tetapi menjadi kompas operasional yang menuntun prioritas program, riset, advokasi, pendanaan, dan pengembangan kelembagaan. Hasil lokakarya akan menjadi dasar bagi penyempurnaan dokumen Renstra sekaligus pijakan bagi tindak lanjut Board dan sekretariat dalam 3-6 bulan ke depan.

Kami menggunakan cookie untuk memberikan Anda pengalaman terbaik.