Country Study Examining Women’s Roles in the Future of Work in Indonesia

Tahukah anda bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi dan penurunan tingkat kemiskinan di seluruh Asia meningkat, ketimpangan gender semakin lebar dan meninggalkan sebagian kelompok masyarakat termarginalisasi secara ekonomi dan sosial.

Perempuan di Asia terus mengalami kerugian struktural yang masif, mulai dari pendidikan anak usia dini, pekerjaan dan persiapan masa lansia, terutama perempuan yang dieksploitasi sebagai tenaga kerja murah di industri pada sektor berketerampilan rendah, terutama pertanian, tekstil, sepatu, dan industri elektronik. Perempuan dibayar dengan upah subsisten dan mengalami peningkatan kondisi kerja dan masa depan yang tidak pasti.

Selain kondisi ini, perempuan juga mengalami kesulitan dalam masuk di pasar kerja. Di Indonesia, jumlah usia produktif laki-laki dan perempuan sebenarnya tidak jauh berbeda. Bahkan jumlah perempuan sedikit lebih banyak dibandingkan laki-laki. Perempuan usia produktif mencapai 97,6 juta sedangkan laki-laki 97,2 juta. Akan tetapi, partisipasi perempuan bekerja dibandingkan dengan laki-laki masih sangat rendah yaitu hanya 50,7 juta, sementara laki-laki mencapai 80,3 juta. Berbagai faktor yang menghambat perempuan bekerja antara lain adanya nilai-nilai sosial dan budaya yang menempatkan perempuan sebagai penanggungjawab domestik, seperti mengurus suami, anak, orangtua, keluarga yang sakit, memasak, dan segala urusan rumah tangga lainnya. Selain itu, tingkat Pendidikan dan keterampilan yang tidak memadai turut menjadi faktor penghambat perempuan untuk mengakses pasar kerja.

Tantangan perempuan untuk berpartisipasi di pasar kerja menjadi lebih berat ketika revolusi industry ke-4 mulai bergulir dan mempengaruhi tuntutan keterampilan yang lebih tinggi sehingga kompetisi di dalam pasar kerja menjadi semakin sulit bagi perempuan. Pemerintah Indonesia dalam “Roadmap Making Indonesia 4.0” mengklaim bahwa Indonesia telah memiliki kebijakan yang cukup holistik dalam menciptakan dan menggunakan peluang di era teknologi dan digitalisasi. Namun, proses diskusi dan perumusan kebijakan tidak pernah melibatkan perempuan sehingga gersang akan nilai-nilai pada upaya keadilan gender. Pemerintah tampaknya kurang memahami bagaimana gender framework dapat digunakan untuk menembus tantangan di masa depan sehingga laki-laki dan perempuan dapat memperoleh manfaat yang sama dari revolusi industry yang berkembang.

Melalui sudut pandang feminis, Herni Ramdlaningrum (Program Manager Perkumpulan PRAKARSA) dan Desintha Dwi Asriani (Dosen Fisipol UGM, PhD Candidate) mengeksplorasi masa depan pekerjaan perempuan, berdasarkan sektor-sektor di mana perempuan secara tradisional berpartisipasi, dan menawarkan proyeksi berdasarkan beberapa faktor penentu, seperti dividen demografis, perubahan iklim, gangguan lingkungan dan teknologi. Tulisan ini berjudul “Country Study Examining Women’s Roles in the Future of Work in Indonesia”, didukung oleh Friedrich-Ebert-Stiftung (FES).

Karena kurangnya penelitian dan data yang memadai sampai saat ini, bagaimanapun, ada keterbatasan dalam analisis tentang bagaimana digitalisasi telah mempengaruhi perempuan dalam dunia kerja. Yang sampai saat ini ada hanyalah laporan media yang menyoroti bagaimana digitalisasi digunakan oleh perempuan melalui ekonomi platform digital, seperti e-commerce. Namun demikian, harapannya bahwa tulisan ini tetap dapat memberi tambahan informasi sebagai pemantik diskusi yang lebih jauh.Selamat membaca!

Didukung oleh: Friedrich-Ebert-Stiftung (FES)

Add Comment