Jalan Panjang Keuangan Berkelanjutan (Bilingual)

Jalan Panjang Keuangan Berkelanjutan

Praktik keuangan berkelanjutan di Indonesia masih belum secara efektif mengintegrasikan prinsip LST ke dalam core business LJK sebagai bagian dari manajemen risiko. Kebijakan mengenai keuangan berkelanjutan dinilai masih bersifat permukaan, namun belum banyak menyentuh hal substantif. Regulasi yang ada saat ini belum secara jelas dapat mengukur bagaimana dampak bisnis pembiayaan LJK terhadap risiko LST.

Lebih jauh, LJK memiliki peran intermediate untuk menghimpun dan menyalurkan dana publik sehingga dapat berkontribusi pada pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, salah satunya melalui investasi yang bertanggung jawab. Proses transformasi untuk memadukan kepentingan ekonomi dengan komitmen pada kelestarian alam, penegakan HAM, dan penurunan ketimpangan tak hanya penting bagi pencapaian target pembangunan berkelanjutan, namun juga bertujuan untuk meningkatkan daya tahan dan daya saing lembaga keuangan.

Sebagai sektor yang diatur secara ketat, industri keuangan memiliki kepatuhan atas mandat yang diatur oleh pemerintah sebagai regulator. Artinya, regulasi yang komprehensif akan dapat mengoptimalkan peran aktif sektor keuangan dalam mendukung terciptanya ekosistem yang berkelanjutan sehingga prinsip-prinsip keuangan berkelanjutan dapat menjadi bagian integral dari praktik bisnis lembaga keuangan.

Laporan Pemeringkatan Bank yang dilakukan ResponsiBank Indonesia pada tahun 2018 menemukan bahwa Lembaga Jasa Keuangan (LJK) di Indonesia masih belum memiliki kebijakan kredit dan investasi spesifik pada sektor bisnis yang berisiko tinggi terhadap aspek lingkungan dan sosial.


Long Road to Sustainable Finance in Indonesia

FSIs practice in Indonesia have not yet effectively addressed ESG criteria into their core business activities as a part of their risk management strategies. Regulation regarding sustainable finance is still deemed superficial and has yet to touch the substance. The existing regulation have not been able to clearly measure the financing risks of FSIs on ESG issues.

Furthermore, as a critical intermediary, FSIs serve a central role in driving capital to sustainable and green investment thus FSIs directly support inclusive and sustainable economic development and growth, one of which through responsible investment. The transformation process of harmonizing economic interests with environmental, human rights and inequality issues aims not only to accelerate the achievement of sustainable development goals (SDGs) but also to increase the resilience and competitiveness of FSIs.       

As a heavily regulated sector, the compliance of FSIs in Indonesia is highly dependable on the mandate set by the government as a regulator.  Meaning, a comprehensive regulation facilitates and optimizes the role of financial sector in promoting sustainable ecosystem so that the principles of sustainable finance become an integral part of FSIs practices.

A recent study conducted by Responsibank Indonesia in 2018 shows that Financial Services Institution (FSIs) do not have specific sector policy for high risk business and industries that are exposed to environmental and social conflict issues.

Add Comment