Bahas Penguatan Green Jobs dan Vokasi Hijau

Jakarta, The PRAKARSA – Rabu (28/1/2026), The PRAKARSA melakukan audiensi dengan Tim Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (Ditjen Binalavotas) Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) untuk membahas peluang kerja sama serta penyelarasan program kerja, khususnya dalam agenda green jobs dan transisi menuju ekonomi hijau. Dalam audiensi, Kemnaker dipimpin oleh Bapak Aris Hermanto dan dari PRAKARSA dipimpin oleh Ibu Victoria Fanggidae. Audiensi berlangsung di Gedung Vokasi Kemnaker, Jalan Gatot Subroto.
Audiensi ini menjadi bagian dari upaya The PRAKARSA memperkuat kerja-kerja kebijakan berbasis bukti, yang antara lain menitikberatkan pada kesiapan tenaga kerja untuk transisi green jobs serta dukungan kebijakan (termasuk pembiayaan/instrumen fiskal) bagi transisi hijau.
Dalam diskusi, Tim Ditjen Binalavotas menekankan bahwa capaian pengembangan kompetensi tenaga kerja hijau masih jauh dari target nasional, sekaligus menghadapi tantangan besar pada aspek data dan pelaporan. Perwakilan Kemnaker menyampaikan bahwa target pengembangan kompetensi green jobs sebesar 300.000 orang. Keterbatasan utama adalah ketersediaan data lintas sumber, termasuk minimnya data yang dapat dihimpun hanya dari skema APBN Kemnaker.
Isu krusial lain yang mengemuka adalah belum seragamnya definisi green jobs. Unit-unit yang terkait baik di internal Kemnaker maupun ekosistem pelatihan masih memiliki persepsi dan praktik klasifikasi yang berbeda-beda, sehingga menyulitkan pemetaan kompetensi, desain pelatihan, hingga pelaporan capaian. Para pihak juga menilai roadmap nasional terkait green jobs sudah tersedia, namun masih belum cukup operasional untuk menjadi panduan teknis di tingkat balai pelatihan. Karena itu, audiensi ini menggarisbawahi kebutuhan untuk menyusun rujukan yang lebih aplikatif yakni keseragaman definisi, klasifikasi kompetensi, serta indikator instruktur dan sarana pendukung.


Dari sisi kapasitas implementasi, diskusi juga menyoroti keterbatasan sarana dan prasarana pelatihan green jobs terutama pada bidang energi terbarukan yang membutuhkan investasi peralatan mahal. Ditjen Binalavotas menyampaikan bahwa pelaksanaan pelatihan masih kerap bergantung pada kerja sama dengan mitra eksternal untuk penyediaan fasilitas. Selain itu, peserta menegaskan bahwa keberadaan peralatan tidak otomatis efektif tanpa sistem pendukung yang terintegrasi (manajemen, kurikulum, dan proses operasional balai). Kapasitas instruktur menjadi perhatian utama, jumlah instruktur yang kompeten di bidang green jobs masih terbatas, sehingga peningkatan kapasitas melalui Training of Trainers (ToT) dan sertifikasi perlu diiringi dengan keterhubungan yang nyata dengan kebutuhan industri agar tidak memproduksi lulusan bersertifikat namun mengalami kesulitan terserap pasar kerja.
Dalam pertemuan, Ditjen Binalavotas juga menyampaikan bahwa kolaborasi dengan The PRAKARSA dipandang penting untuk menghindari tumpang tindih program dan memperkuat area yang belum banyak tersentuh, terutama pada penguatan riset, pemutakhiran data pasar kerja, dan penyusunan indikator yang lebih realistis sebelum perluasan skala intervensi. Audiensi ini juga menjadi ruang untuk menyelaraskan peluang kolaborasi dengan kerangka program yang berfokus pada tiga hasil utama: kesiapan industri menuju green economy, kesiapan tenaga kerja untuk transisi green jobs, serta kajian pembiayaan transisi hijau melalui instrumen fiskal dan skema inovatif lainnya.